dicuplik dikit dari http://www2.dw-world.de/indonesia/Tagesthema/1.198406.1.html + bumbu2 cerita dari Mirwan
Sampah obat-obatan Jerman membanjiri negara-negara dunia ketiga. Indonesia pun tak diluputkan. Ekspor obat-obatan tersebut merupakan metode pelenyapan obat-obatan kadaluarsa ala industri farmasi Jerman.
Pernahkah Anda mengalami sakit, dan sesudah minum obat ternyata malah lebih sakit? Atau jadi menderita penyakit lain lagi yang lebih berat. Hati-hati, mungkin obat yang Anda minum sudah kadaluwarsa, atau obat yang di negara asalnya sudah dilarang karena efek sampingnya berbahaya.
BUKO Pharma-Kampagne, sebuah LSM Jerman memperingatkan. Sejumlah perusahaan farmasi Jerman mengekspor obat-obat kadaluarsa dan yang sudah dilarang, ke berbagai negara miskin. Termasuk Indonesia. Celakanya, di Indonesia tidak ada standar pengaturan penjualan obat-obatan yang baik. Obat apapun bisa diperoleh di pinggir jalan. Tanpa kontrol.
Organisasi ini pernah pula menyaksikan, bagaimana perusahaan Jerman Schering menjual sebuah obat bernama Photabo kepada Filipina yang sedang dilanda kelaparan. Photabo adalah obat pemacu pertumbuhan, namun efeknya dapat menjurus kepada terhentinya pertumbuhan pada anak di usia dini. Gambaran yang tidak jauh berbeda terdapat di India, di mana Tonikum Bayer dijual sebagai obat kuat. Dr. Christiane Fischer dari BUKO mengatakan:
Fischer: “Contoh yang parah adalah Tonikum milik Bayer. Obat itu mengandung 10 persen alkohol, ekstrak hati, beberapa Vitamine dan ragi. Jika orang yang menderita kelaparan meminum setiap harinya satu sendok makan, itu tak beda seperti dia meminum satu sloki minuman keras. Efeknya adalah pengerutan hati dan terutama dirasakan oleh anak-anak, tapi juga orang dewasa”
Begitu baca tulisan diatas, aku jadi ingat kalo antara rentang waktu SMP-SMA aku sering minum Tonikum Bayer… Waktu itu sih aku seneng2 aja dengan rasanya yang terus terang enak, plus saat diminum ada sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Waktu itu soalnya aku pernah divonis dokter kena “KD” alias kurang darah. Selama minum Tonikum Bayerpun, aku ngerasa jadi tambah betah belajar malam. Sistem wayangan yang biasa dilakukan menjelang THB/UUB/whatever sekarang istilahnya apa, dengan mudah kujalankan tanpa merasa lelah…
Hari ini aku sadar, ternyata rasa nikmat yg dulu kurasakan berasal dari ALKOHOL yg kandungannya mencapai 10% di tiap botol Tonikum Bayer… Menjelang SMA kelas dua gitu, aku udah mula berhenti minum Tonikum Bayer. Tapi menjelang ujian UMPTN aku mulai minum obat macam begituan lagi, yaitu Sakatonik Liver. Dari segi rasa sih lebih enak Sakatonik Liver, jadi semenjak itu aku udah ga pernah nyari Tonikum Bayer lagi… Btw, semoga aja Sakatonik Liver bukan merupakan obat sampah kayak Tonikum Bayer yach… hehe…
Yah.. berati aku dah kecanduan alkohol sejak SMP dong??
btw, untuk info obat2an lain yg merupakan “sampah” Jerman, mending baca aja sendiri di situsnya DW, atau copy-paste aja link diatas…